Potret dan Pena

Potret dan Pena adalah dua hal yang bisa memberikan gambaran tentang apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan.

Learning to let go should be learned before learning to get. Life should be touched, not strangled. You’ve got to relax, let it happen at times, and at others move forward with it.

Ray Bradbury (via julie911)

kuntawiaji:

Bagaimana jika Izrail berkata kepadamu, tahun ini adalah Ramadhan terakhirmu?

kuntawiaji:

Bagaimana jika Izrail berkata kepadamu, tahun ini adalah Ramadhan terakhirmu?

aku mengenal jakarta, menciumnya, jatuh cinta sesaat, membencinya dan jatuh cinta lagi

—9 summers 10 autumns - iwan setyawan ( @iwan9S10A )

here we go i smile for you now, ‘cause you’re sad. but i’m not allowed to be sad.

—Copeland (Not Allowed)

(Source: pravitasaryeah)

That’s why I love…

Entah nada do, re, mi atau nada lain yang dimainkan saat ini atau kunci G, C, F, atau kunci minor lainnya yang mungkin saya sampai tidak sanggup mengenalinya. Masing - masing mengalun merdu memenuhi isi ruangan dan kepala saya malam ini. Alat - alat buatan manusia ini seakan - akan menyanyi dan menunjukkan apa yang mereka bisa lakukan.

Lengkingan, hentakan, petikan, gesekan serasa saling menyapa dan berbicara di sebuah kisah yang membius penonton di ruangan ini.

Saya hanya bisa menutup mata dan memasang telinga dan ikut terhanyut dalam kompleksitas hal yang disebut musik ini. Yang harus kita lakukan adalah cara paling sederhana, dengar dan rasakan. Saya serasa menangkap emosi dari para penampil saat mereka semua menari dengan alat - alat mereka.

Emosi, marah, sedih, cemas, kesepian.

Rasanya saya tidak akan menutupnya dengan sekedar betepuk tangan malam ini. Saya berandai-andai, musik ini terus mengalun dan bercerita hingga saya menutup mata malam ini.

Ya, saya bukan penggemar berat Mozart, atau malah pembenci musik melayu. Saya cuma pecinta musik.

That’s why I love …

Music

and You

Nita Juwita :)

If you’re song of this life, I will sing it everyday in my life.